• header
  • header2
  • header3
  • header4
  • header5
  • header6

Selamat Datang di Website SMA NEGERI 1 SUBAH | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


SMA NEGERI 1 SUBAH

NPSN : 20322741

Jl.Raya Jatisari Subah Batang Jawa Tengah 51262


info@sman1subah.sch.id

TLP : 0265656565


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah kami ?
Sangat bagus
Bagus
Kurang Bagus
  Lihat

Statistik


Total Hits : 630585
Pengunjung : 194873
Hari ini : 59
Hits hari ini : 107
Member Online : 1
IP : 3.230.143.213
Proxy : -
Browser : Opera Mini

KONEKSI ANTAR MATERI:PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN




KONEKSI ANTAR MATERI

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

Oleh FIRSTI MANAH ASRI, M.Kom (CGP ANGKATAN 09)

 

 

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”
(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).
Bob Talbert

Dalam menghadapi sebuah permasalahan yang membutuhkan pengambilan keputusan, ada kalanya kita dihadapkan dengan permasalahan benar vs salah. Namun terkadang ada pula permasalahan benar vs benar yang disebut sebagai dilema etika.

Keputusan yang diambil dapat bernilai benar, namun kita tidak hanya mengambil keputusan hanya berdasarkan prinsip benar sesuai aturan, namun terkadang kita juga harus memikirkan prinsip rasa perduli ataupun prinsip hasil akhir yang akan didapatkan jika kita mengambil keputusan benar tersebut.

Sebagai pemimpin pembelajaran, keputusan yang kita ambil akan berdampak untuk masadepan anak didik kita. Untuk itu keputusan yang tepat harus diambil dengan mempertimbangkan berbagai hal, karena masa depan anak didik kita adalah yang berharga.

 

 Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Pendidikan merupakan proses menularkan pengetahuan dan nilai-nilai yang baik. Pendidikan memiliki peran untuk menciptakan manusia yang bermoral, berbudaya, berbudi pekerti luhur serta manusia yang memanusiakan orang lain. Untuk itu kita sebagai pemimpin pendidikan diharapkan dapat menjalankan fungsi pendidikan tersebut dengan semestinya.

 

  • Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Patrap Triloka memiliki unsur-unsur (dalam bahasa Jawa) yaitu: Ing ngarsa sung tuladha (yang di depan memberi teladan/contoh) Ing madya mangun karsa (di tengah membangun prakarsa/semangat) Tut wuri handayani (dari belakang mendukung). Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan pratap triloka pada dasarnya adalah menggambarkan bagaimana guru melakukan perannya sebagai pamong. Menuntun murid mencapai kodratnya. Apabila kita amati lebih mendalam, sejatinya tiga semboyan dalam dunia pendidikan tersebut merupakan sebuah konsep kepemimpinan yang luar biasa. Tiga konsep kepemimpinan tersebut merupakan sebuah sebuah kerangka filosofis dalam membentuk karakter pemimpin di Indonesia yang mampu berkontribusi langsung dalam masyarakat.

Sebagai seorang pemimpin, dalam hal ini sebagai pemimpin pembelajaran maupun pemimpin sekolah harusnya menggunakan ketiga unsur tersebut. 1) Dapat memberi contoh/teladan, Dalam memberikan teladan pemimpin hendaknya memberikan keselarasan antara perkataan dan perbuatan “Practice what you preach”. Pemimpin harus mampu untuk menguasai diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang serta mematuhi apa yang dianjurkan. Sehingga pemimpin dapat diikuti dan menjadi suri tauladan yang baik. 2) Dapat memberi semangat atau membangun motivasi, Apabila pengikut merasa kebingungan maka tugas seorang pemimpin untuk memberi arahan yang jelas. Lalu, ketika pengikut telah mampu melaksanakan tugasnya maka seorang pemimpin harus menciptakan dan membangun iklim yang suportif dan motivasi yang membangun. 3) Dapat memberi dukungan untuk setiap hal-hal positif di sekitar lingkunganya. Dorongan moral ini diharapkan akan menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri. Selain itu, sikap percaya antara pemimpin dan pengikutnya juga harus ditumbuhkan. Pemimpin harus percaya dan yakin pada kemampuan anggota atau pengikutnya. Hal ini bisa dicontohkan lewat pemberiaan sebuah amanah atau tanggung jawab kepada anak buahnya.

  • Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Guru sebagai pendidik harus memiliki nilai-nilai positif yang mampu menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid. Nilai yang dimiliki oleh seorang guru seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid akan mempengaruhi guru dalam bersikap ketika menghadapi masalah dan mengambil keputusan dari kasus yang dihadapinya, baik dilema etika maupun bujukan moral. Nilai ini juga akan mempengaruhi prinsip apa yang akan digunakan ketika mengambil keputusan, Prinsip tersebut ada 3, yaitu: Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

  • Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Materi coaching sangat berkaitan dengan proses pengambilan keputusan. Salah satu model coaching yang mudah untuk dipahami dan dijalankan adalah coaching model TIRTa yang tahapannya terdiri dari Tujuan, Identifikasi Masalah, Rencana Aksi dan Tanggung jawab. Coaching model TIRTa ini merupakan salah satu model coaching yang dikembangkan untuk dapat membantu seorang guru atau coach dalam menuntun murid (coachee) menemukan potensi yang dimilikinya dengan memanfaat komunikasi positif melalui pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dapat membuat murid menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapinya.

Agar mampu mengembangkan coaching model ini, tentunya guru harus memiliki kemampuan komunikasi efektif sehingga mampu mengembangkan pertanyaan-pertanyaan terbuka yang mampu menuntun murid dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Melalui coaching, pengambilan keputusan yang telah diambil dapat direfleksikan kembali sehingga menjadi keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan karena setiap keputusan yang diambil sebagai pemimpin pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap masa depan murid kita. Proses coaching tentunya menjadi tempat untuk benar-benar melatih dan menggali potensi coachee untuk lebih piawai dalam menghadapi berbagai dilema yang datang, sehingga lebih mampu mengambil keputusan yang benar, baik, dan dapat diterima oleh semua pihak.

  • Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kondisi sosial dan emosional sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan seorang guru. Pada saat pengambilan keputusan dilakukan, seorang guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional agar proses pengambilan keputusan dilakukan dengan kesadaran penuh, sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang akan terjadi. Guru mesti menghadirkan diri sepenuhnya (mindfulness) dan sadar sepenuhnya dalam menghadapi setiap masalah sehingga keputusan yang diambil nantinya sesuai dengan 3 prinsip pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma dilema etika yang dihadapi serta sesuai dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Jika kondisi sosial emosional guru bukan pada keadaan sadar sepenuhnya, bisa saja keputusan yang diambil justru lebih banyak merugikan baik untuk dirinya sendiri maupun pihak lain yang terkait. Meski butuh waktu tertentu untuk membuat sebuah keputusan, ini lebih baik daripada keputusan diambil dengan cepat tanpa pertimbangan yang matang.

  • Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Dalam menjalankan perannya, sebagai seorang pendidik tentunya akan selalu dihadapkan pada situasi masalah yang mengandung dilema etika maupun bujukan moral. Ketika mengalami situasi ini, maka diperlukan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga pendidik bisa mengambil keputusan yang tepat dengan resiko yang sekecil-kecilnya.

Pada dasarnya penyelesaian masalah moral atau etika haruslah sesuai dengan nilai-nilai kebajikan yang menjadi keyakinan bersama. Karena nilai-nilai kebajikan pasti bersumber pada nilai-nilai kebaikan yang secara umum lahir dari batin setiap manusia. Aturan dan norma yang dibuat dan berlaku juga bersumber dari nilai-nilai kebajikan. Maka jika pengambilan keputusan didasarkan pada nilai-nilai kebajikan pastinya melahirkan keputusa yang tepat, baik, benar, serta diterima oleh semua pihak. Tentunya dengan mempertimbangan hubungan sosial yang harmonis pada lingkungan.

  • Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Berdasarkan materi yang sudah kita pelajari pada modul 3.1 ini, untuk pengambilan keputusan yang tepat setidaknya melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian yang harus dilakukan sebelum pengambilan keputusan. Harapannya setelah melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan ini maka akan didapatkan keputusan terbaik dengan resiko yang sekecil-kecilnya sehingga akan tercipta suasana baik, kehidupan yang harmonis dan pada akhirnya akan tercipta lingkungan positif yang kondusif, aman dan nyaman. Keputusan juga diambil dengan penuh kesadaran menimbang kepentingan berbagai pihak.

  • Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika pasti ada. Tantangan yang nyata adalah sebuah kebiasaan yang berlaku. Tantangan ini berkaitan erat dengan perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah mengakar puluhan tahun lamanya.  Pasti akan menimbulkan pertentangan yang cukup besar ketika terjadi sebuah perubahan yang signifikan. Karena masih banyak pola berpikir yang berpedoman pada “biasanya” yang berkorelasi pada sebuah kondisi yang stagnan. Maka menjadi sebuah tantangan tersendiri ketika sebuah paradigma baru dimunculkan. Selain itu, sulitnya menyatukan pendapat banyak orang yang mempunyai pandangan berbeda pasti membawa tantangan tersendiri, hal ini berarti akan tetap ada pihak yang tidak puas terhadap keputusan yang sudah diambil.

  • Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengambilan keputusan adalah yang berpihak pada murid. Tujuannya agara semua kebutuhan murid dapat diakomodir. Setiap murid kita memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, maka perlu dimengerti untuk mengambil keputusan tentang pemberian pengajaran yang sesuai sehingga dapat diterima dan dilaksanakan hingga mencapai tujuan pembelajaran.

  • Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan pasti akan berpengaruh terhadap kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Setiap keputusan yang diambil harusnya berdasarkan pada pemetaan kebutuhan belajar murid,  sehingga dapat menggali potensi yang dimiliki dengan mampu mengembangkan kemampuan yang sesuai dengan bakat minatnya serta selaras dengan kodrat alam kodrat zamannya. Seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan dengan tepat dengan keberpihakannya pada murid akan menciptakan kondisi ideal yang memberikan dampak akhir mewujudkan pembelajaran yang well-being untuk masa depan yang lebih baik.

  • Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Menjadi sebuah keniscayaan bahwa pendidikan merupakan proses menularkan pengetahuan dan nilai-nilai yang baik. Salah satunya adalah nilai kepemimpinan Ki Hajar Dewantara yang dikenal dengan istilah konsep patrap triloka. pendidikan adalah inkubator awal dalam membentuk pemimpin masa depan. Tiga konsep kepemimpinan tersebut merupakan sebuah sebuah kerangka filosofis dalam membentuk karakter pemimpin di Indonesia yang mampu berkontribusi langsung dalam masyarakat

Nilai-nilai dan peran kita sebagai pemimpin pembelajaran akan mempengaruhi keputusan yang kita ambil, semakin baik nilai yang ada dalam seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran maka keputusan yang diambil akan semakin bijak dan baik. Nilai akan mempengaruhi cara kita dalam mengambil keputusan, dan prinsip apa yang akan kita gunakan.

Pengambilan keputusan merupakan hal yang penting untuk dicermati dan dipertimbangkan. Karena berdampak bukan hanya untuk kehidupan kita namun juga semua komponen yang ada di lingkungan sekitar kita. Maka untuk melatih dan mengeksplorasi kemampuan kita serta menerapkan pengujian keputusan kita, dapat dilakukan dengan kegiatan coaching. Pada saat membuat keputusan juga harus dengan kesadaran penuh dalam kondisi sosial emosional yang baik sehingga berbagai pertimbangan keputusan dilakukan dengan kesadaran bukan untuk emosi sesaat.

Dalam menjalankan perannya, sebagai seorang pendidik tentunya akan selalu dihadapkan pada situasi masalah yang mengandung dilema etika maupun bujukan moral. Ketika mengalami situasi ini, maka diperlukan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga pendidik bisa mengambil keputusan yang tepat dengan resiko yang sekecil-kecilnya dan memberikan manfaat yang lebih baik bagi banyak orang. Muaranya, semua keputusan yang diambil di sekolah harus berpihak pada murid karena pendidikan diberikan adalah untuk menuntun kodrat anak mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

  • Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Setelah mempelajari modul 3.1 saya menjadi lebih mampu memahami dan menganalisis kasus yang termasuk dalam bujukan moral (kondisi benar lawan salah, berhubungan dengan aturan/hukum) dan dilema etika (kondisi benar lawan benar, terkadang menjadi dua sisi benar namun saling bertentangan).

Dalam pengambilan keputusan terdapat 4 paradigma dilema etika yang dapat digunakan yaitu paradigma individu lawan masyarakat, paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan, paradigma kebenaran lawan kesetiaan, dan paradigma jangka pendek lawan jangka panjang. Paradigma ini digunakan dalam mempertajam analisis mengenai sebuah kasus berdasarkan nilai-nilai yang saling bertentangan.

Selain paradigma, saya juga memahami mengenai 3 prinsip pengambian keputusan yaitu prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking), berpikir berbasis peraturan (rules-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking). Prinsip ini digunakan sebagai arah pengambilan keputusan yang akan diambil menuju keputusan yang paling sesuai.

Untuk 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan terdiri dari : mengenalai nilai-nilai yang saling bertentangan, menentukan siapa saja yang terlibat, kumpulkan fakta-fakta yang relevan, pengujian benar dan salah (uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan), pengujian paradigma benar lawan benar, melakukan prinsip resolusi, investigasi opsi trilema, membuat keputusan dan tinjau lagi keputusan dan refleksikan.

Hal yang diluar dugaan selama saya mempelajari modul 3.1 adalah adanya sekat tipis yang kadang membuat saya sulit membedakan antara bujukan moral dan dilema etika. Pada awal mempelajari modul ini saya merasa terjebak saat sedang menganalisis sebuah kasus terkait bujukan moral yang saya identifikasi sebagai dilema etika. Ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus dan diharapkan mampu mengambil keputusan yang tepat maka kita perlu menggunakan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga kita bisa mengambil keputusan yang tepat dengan resiko yang sekecil-kecilnya dan memberikan manfaat yang lebih baik bagi banyak orang

  • Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Ya, pernah. Dan setelah mempelajari modul ini, ternyata saya pernah menggunakan 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berpikir berbasis hasil akhir (end-based thinking), berpikir berbasis peraturan (rules-based thinking), dan berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking) dengan kasus yang berbeda-beda. Bedanya dengan modul ini, saya lebih sering mempertimbangkan pilihan keputusan dengan satu prisnsip saja, yaitu berbasis peraturan yang kadang justru menghilangakan rasa perduli. Sedangakan di modul ini kita juga dapat menggunakan 2 prinsip untuk pengambilan keputusan.

  • Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak nyata yang saya rasakan adalah saya lebih mampu menganalisis kasus/masalah yang dihadapi termasuk dalam bujukan moral atau dilema etika sehingga akan lebih memudahkan arah saya dalam pengambilan keputusan yang tepat sebagai seorang pemimpin pembelajaran.

  • Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Dengan mempelajari topik modul 3.1 saya menjadi lebih memahami jika dalam proses pengambilan sebuah keputusan perlu dilakukan dengan alur yang jelas dan runtut, dan langkah awal paling penting adalah mengidentifikasi masalah tersebut. Mengambil keputusan bukan hanya berpedoman pada satu pijakan dan bersifat kaku, namun mempertimbangan segala sisi yang lebih baik serta humanis..




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : Nurfaisal edy n -  [q.margi@gmail.com]  Tanggal : 16/02/2024
Bagus bu fristy luar biasa.sangat menginspirasi.mantab


   Kembali ke Atas